Sabtu, 13 Oktober 2007

Sally Sendiri


biar sally mencariku
biarkan dia terbang jauh
dalam hatinya hanya satu
jauh hatinya hanyaku

katakan ku takkan datang
pastikan ku takkan kembali
lalu biarkan dia menangis
lalu biarkan dia pergi

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

biar sally mencariku
biarkan dia terbang jauh
dalam hatinya hanya satu
jauh hatinya hanyaku

katakan ku takkan datang
pastikan ku takkan kembali
lalu biarkan dia menangis
lalu biarkan dia pergi

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

sally kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis

=====================

Sally = me?

Kamis, 11 Oktober 2007

Angin lalu

ini adalah gambar dari hati saya !

Betapa pun saya berusaha untuk membuktikan diri saya kepadanya, kembali... saya hanya dianggap angin selewat, mudah berlalu, dinin sebentar lalu lenyap tak bersisa....

hmmmf... saya semakin tersadarkan, kalaulah saya ini bukan apa-pap. Bukan siapa-siapa...

hari ini aku kembali membaca tulisan hariannya, kembali... saya sadar,saya bukan siapa-siapa... tak berarti. tak seperti gadis itu, yang setiap hari menanyakan kabarnya, yang mampu menegertinya, yang bisa membaca pikirannya...

ya, saya bukan siapa-siapa dibanding gadis yang hebat itu, yang sangat berarti itu. saya menjadi malu pada dunia dan pada diri sendiri. Buat apa saya masih memikirkan orang yang tak memikirkan saya, yang tak perduli terhadap saya, yang tidak memperdulikan saya?

Semoga ini menjadi pelajaran buat saya...

SEmoga ia dan gadis itu diberikan kebahagiaan dan jalan yang terbaik...
Semoga saya menemukan ketenangan hati dan kebahagiaan saya...
Semoga saya tak bersedih hati lagi karenanya...

Rabu, 03 Oktober 2007

Kelinci Sumatra yang Eksotis

Siapa tak kenal kelinci, hewan kecil yang menggemaskan? Kenalkah kamu dengan kelinci asli Indonesia, yaitu Kelinci Sumatra?
Kelinci Sumatra (
Sumatran rabbit, Nesolagus netscheri) hanya terdapat pada hutan di gunung-gunung di Sumatra,diantaranya Gunung Barisan, Gunung Kerinci, dan Gunung Leuser. Tidak terlalu banyak informasi tentang spesies ini. Mereka termasuk hewan yang sangat ‘pemalu’, sering bersembunyi, ditambah banyak predator yang mengancam kelangsungan hidupnya termasuk manusia. Bahkan, kelinci yang berstatus nyaris punah ini tidak memiliki nama daerah dari penduduk lokal karena jarang sekali muncul.

Ciri khusus Nesolagus netscheri adalah warna dasar coklat kekuningan dengan garis hitam merentang di sepanjang tubuh. Terdapat warna hitam di sekeliling matanya, sisi-sisi kepala dibelakang mata lalu kepangkal telinga. Selain itu telinga kelinci ini lebih kecil dari kelinci biasa dan memiliki ekor yang sangat pendek. Panjang tubuhnya sekitar 417 mm dengan berat sekitar 1,5 kg.

Habitat kelinci Sumatra yaitu hutan lembab di pegunungan pada ketinggian 850m- 2300 m. Bersifat nocturnal, serta memiliki kebiasaan bersembunyi di bawah pohon dan di lubang bawah tanah. Uniknya, lubang tersebut bukan hasil galian mereka sendiri tetapi lubang alami atau lubang bekas persembunyian hewan lain.

Makanan hewan ini adalah daun dan tangkai dari tanaman hutan. Pemangsa utama kelinci Sumatra yaitu kucing hutan, ular, hewan-hewan karnivora yang berukuran lebih besar, serta para pemburu liar.

Dulu marga dari kelinci Sumatra hanya terdapat satu jenis (monotypic), namun sejak beberapa tahun lalu di hutan Vietnam dan Laos ditemukan spesies yang menyerupai jenis ini yang merupakan anggota suku kelinci (Lagomorph). Spesies yang ditemukan di Vietnam tersebut adalah Nesolagus timinsi.

Kini kelinci unik bergaris ini berada dalam tahap menuju kepunahan seiring berkurangnya jumlah hutan alami, perburuan liar, serta masih kurang informasi tentang bagaimana cara mengkonservasinya. Sepantasnya kita dapat turut melindungi dan mencegah hewan ini hanya menjadi legenda di masa yang akan datang.

Referensi:

http://li.defined.net/
http://www.oneworldwildlife.org/sumatra.html


www.apus.ru

whatever it will be, it will be...

Peringatan:
Pernyataan yang saya tuangkan dalam posting berikut ini bukanlah suatu complain atau bentuk pelecehan/penghinaan serta pernyataan yang tidak menyenangkan untuk sesuatu/seseorang. Hanya sekedar hal yang saya tangkap, cerna, dan terima dari hal yang telah dialami berupa curahan hati (curhat). Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung, bukan merupakan maksud dari tujuan awal saya untuk posting. Harap Maklum. Terima kasih.

Saat akhir minggu merupakan momen yang paling saya tunggu setiap satuan waktunya. Tapi tidak dengan akhir minggu itu. Ya, waktu itu merupakan saat yang benar-benar tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Akhir minggu itu menjadi mimpi buruk, setelah saya selalu bermimpi indah sebelumnya. Dia, dengan rentetan kata yang masih terngiang, raut wajah, serta suasana yang masih terekam sampai saat ini. Benar-benar sakitnya, hingga dengan mengingat kejadian itu, mendengar kisah sedih, menonton film, dan mendengarkan lagu kenangan bisa terasa amat menyedihkan. Mengundang bulir demi bulir bening keluar dari sudut mata, ampai akhirnya mengalir deras disertai dengan rasa sesak luar biasa.

Beberapa minggu telah berlalu. Di akhir minggu pula dia kembali datang. Dengan raut muka penuh kehangatan. Alunan kata manis tentang kerinduan pun disampaikan olehnya. Saya terbuai, sebentar pelita itu datang membangunkan harapan saya. Sampai dia berkata, dia menemukan seseorang yang dapat mengertinya. Seorang yang dapat membaca pikirannya. Seorang yang selama ini dia cari... Seketika itu pula saya sadar, harapan itu semu. Saya pun kembali terjatuh.

Saya sedih. Saya iri, lebih dari 50 bulan perjuangan saya, dikalahkan hanya dalam beberapa bulan saja. Saya terima kekalahan ini dengan lapang dada, dan terus berdoa untuk kebahagiaannya...

Di akhir minggu berikutnya, dia datang dengan wajah sedih, menyimpan kepedihan yang dalam. Ternyata idamannya menyimpan kesedihan yang amat dalam. Sehingga tidak dapat menerima kedatangannya dengan baik. Hati saya pedih, entah mengapa... Sejak saat itu, sang idaman selalu menjadi tokoh utama dalam cerita kesehariannya, merasuki pikirannya, dan menyita banyak perhatiannya. Saya pun hanya bisa terdiam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Entah kenapa perasaan saya sangat terpukul. Kembali, saya mendoakannya mendapatkan hal-hal yang terbaik dan selalu diliputi kebahagiaan.

Di akhir mingu selanjutnya, tampak seperti tidak ada yang berubah diantara kami, kecuali dalam hal perasaan tentunya. Saya pun berani menanyakan ada apa dengan sang idaman. Dia pun menjawab, dan perasaan pedih itu datang lagi menghampiri saya. Saya pun menarik nafas dalam, menahan bulir bening itu dan kembali mendoakan kebahagiaannya...

Kemudian saya menyadari, betapa hebat dan kuat pengaruh sang idamannya. Saya menerima, merelakan semua yang terjadi, kekalahan saya, kepecundangan saya.. Sayangnya, saya menjadi kehilangan sesuatu... Harapan, Cita, mimpi, dan rasa percaya kepada diri sendiri dan orang lain... Saya selalu menyalahkan diri saya... Mengapa saya tak bisa membaca pikirannya? Mengapa semua yang telah saya lakukan tidak membuat dia menjatuhkan pilihannya pada saya... Mengapa dia tidak sadar apa yang terjadi dengan saya? Bagaimana dia tidak peduli jika saya menjadi trauma dan sangat terjatuh? Seburuk itukah saya?

Saya sedang berusaha menerima apapun yang terjadi dalam hidup saya tanpa mengeluh...tanpa complain, tanpa amarah. Saya tidak lagi mempertanyakan mengapa, apa, bagaimana dan kenapa. Biarkanlah hal yang terjadi, terjadilah. Mengalir seperti air. Berhembus seperti angin. Begitu alami, begitu ringan tanpa beban. Bagaimanapun, kebahagiaannya adalah kebahagiaan saya juga. Klise memang, tapi itulah yang sedang saya jalani sekarang.

*Laa haula wa laa quwwata illa billah*