Rabu, 03 Oktober 2007

whatever it will be, it will be...

Peringatan:
Pernyataan yang saya tuangkan dalam posting berikut ini bukanlah suatu complain atau bentuk pelecehan/penghinaan serta pernyataan yang tidak menyenangkan untuk sesuatu/seseorang. Hanya sekedar hal yang saya tangkap, cerna, dan terima dari hal yang telah dialami berupa curahan hati (curhat). Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung, bukan merupakan maksud dari tujuan awal saya untuk posting. Harap Maklum. Terima kasih.

Saat akhir minggu merupakan momen yang paling saya tunggu setiap satuan waktunya. Tapi tidak dengan akhir minggu itu. Ya, waktu itu merupakan saat yang benar-benar tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Akhir minggu itu menjadi mimpi buruk, setelah saya selalu bermimpi indah sebelumnya. Dia, dengan rentetan kata yang masih terngiang, raut wajah, serta suasana yang masih terekam sampai saat ini. Benar-benar sakitnya, hingga dengan mengingat kejadian itu, mendengar kisah sedih, menonton film, dan mendengarkan lagu kenangan bisa terasa amat menyedihkan. Mengundang bulir demi bulir bening keluar dari sudut mata, ampai akhirnya mengalir deras disertai dengan rasa sesak luar biasa.

Beberapa minggu telah berlalu. Di akhir minggu pula dia kembali datang. Dengan raut muka penuh kehangatan. Alunan kata manis tentang kerinduan pun disampaikan olehnya. Saya terbuai, sebentar pelita itu datang membangunkan harapan saya. Sampai dia berkata, dia menemukan seseorang yang dapat mengertinya. Seorang yang dapat membaca pikirannya. Seorang yang selama ini dia cari... Seketika itu pula saya sadar, harapan itu semu. Saya pun kembali terjatuh.

Saya sedih. Saya iri, lebih dari 50 bulan perjuangan saya, dikalahkan hanya dalam beberapa bulan saja. Saya terima kekalahan ini dengan lapang dada, dan terus berdoa untuk kebahagiaannya...

Di akhir minggu berikutnya, dia datang dengan wajah sedih, menyimpan kepedihan yang dalam. Ternyata idamannya menyimpan kesedihan yang amat dalam. Sehingga tidak dapat menerima kedatangannya dengan baik. Hati saya pedih, entah mengapa... Sejak saat itu, sang idaman selalu menjadi tokoh utama dalam cerita kesehariannya, merasuki pikirannya, dan menyita banyak perhatiannya. Saya pun hanya bisa terdiam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Entah kenapa perasaan saya sangat terpukul. Kembali, saya mendoakannya mendapatkan hal-hal yang terbaik dan selalu diliputi kebahagiaan.

Di akhir mingu selanjutnya, tampak seperti tidak ada yang berubah diantara kami, kecuali dalam hal perasaan tentunya. Saya pun berani menanyakan ada apa dengan sang idaman. Dia pun menjawab, dan perasaan pedih itu datang lagi menghampiri saya. Saya pun menarik nafas dalam, menahan bulir bening itu dan kembali mendoakan kebahagiaannya...

Kemudian saya menyadari, betapa hebat dan kuat pengaruh sang idamannya. Saya menerima, merelakan semua yang terjadi, kekalahan saya, kepecundangan saya.. Sayangnya, saya menjadi kehilangan sesuatu... Harapan, Cita, mimpi, dan rasa percaya kepada diri sendiri dan orang lain... Saya selalu menyalahkan diri saya... Mengapa saya tak bisa membaca pikirannya? Mengapa semua yang telah saya lakukan tidak membuat dia menjatuhkan pilihannya pada saya... Mengapa dia tidak sadar apa yang terjadi dengan saya? Bagaimana dia tidak peduli jika saya menjadi trauma dan sangat terjatuh? Seburuk itukah saya?

Saya sedang berusaha menerima apapun yang terjadi dalam hidup saya tanpa mengeluh...tanpa complain, tanpa amarah. Saya tidak lagi mempertanyakan mengapa, apa, bagaimana dan kenapa. Biarkanlah hal yang terjadi, terjadilah. Mengalir seperti air. Berhembus seperti angin. Begitu alami, begitu ringan tanpa beban. Bagaimanapun, kebahagiaannya adalah kebahagiaan saya juga. Klise memang, tapi itulah yang sedang saya jalani sekarang.

*Laa haula wa laa quwwata illa billah*


Tidak ada komentar: