"Ya Allah, panggillah nama ibundaku fulan binti fulanah untuk datang ke rumahMu. Cukupkanlah rejekinya untuk memenuhi panggilanMu. Ridhoi beliau untuk menunaikan rukun islam yang ke-5."
"Amiin, Ya Allah kabulkanlah.."
Hari ini saya kembali ke Bandung untuk menjenguk emak. Dan pemandangan yang sudah biasa jika di hari libur ini, kami bukannya berleha-leha tapi justru bekerja. Emak sibuk menyiapkan bumbu yang akan diramu untuk jualan esok hari. Ya, minggu merupakan kesempatan emas emak untuk mengais rezeki. Rezeki dari orang-orang yang berlibur dan bersantai bersama keluarga di daerah Dago.
Belakangan ini, emak mengeluh sakit tangan, sakit kaki, sakit kepala, maag kambuh. Subhanallah, saya menduga emak kelelahan. Ditambah gejala psikosomatis karena masih belum move on sepeninggal almarhum abah.
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu jika kita berkegiatan. Adzan magrib sudah tayang di televisi. Remuk redam badan karena lelah bekerja tidak berasa tatkala jagoan kecil saya menarik sajadah dan sarung, minta dipakaikan.
"Bungbung, inih.."katanya. "Iya, malik mau solat ya?" Sahut saya.
Emak duduk menyandar di sofa. Dari sudut mata saya perhatikan, ia tersenyum simpul menonton aksi cucunya.
"Awooooh..." kata malik, yang kira-kira artinya Allahu Akbar. Disambung langsung dengan gerakan takbiratulikram dan kemudian sujud.
"Oa..bungbung" sambil mengangkat kedua tangannya kedepan wajah.
Lalu doanya saya yang dubbing.
"Ya Allah, jadikanlah Malik anak yang soleh, pintar, selalu diberikan kesehatan, serta hidup berkecukupan tanpa kurang satu apapun."
"Aaamiiinggg" sahut malik sembari mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Lalu ia kembali menengadahkan tangannya.
"Ya Allah, semoga nenek bisa naik haji"
"Aamiiing"
Pikiran saya melayang kembali ke awal tahun 2011. Dimana abah baru pensiun. Setelah cair tabungan pensiun abah, emak semangat mau umroh. Haji kecil. Kata emak kalo haji yang berangkat cuma 1 orang aja kalo uang segitu. Emak pengen berangkat sama abah. Lagipula nunggu kuotanya lama.takut ga ada umur.
Qadarullah, pertengahan tahun ada yang melamar saya. Abah gak mau ngutang untuk biaya pernikahan. Cukuplah pernikahan sederhana yang bisa di-cover oleh tabungan pensiun abah.
Emak dan abah gak jadi berangkat umroh. Dan qadarullah, hingga abah meninggal september 2013 belum juga datang kesempatan untuk berhaji atau umroh.
Sedikit banyak saya merasa bersalah..semoga Allah mengabulkan keinginan saya agar emak kelak bisa berhaji. Semoga Allah membukakan pintu rejeki halal darimana saja untuk emak saya. Semoga Allah mengizinkan. Insya Allah.
Sabtu, 12 April 2014
Jumat, 14 Februari 2014
bad day pasti berlalu
Pagi ini, mak saya telepon. Bukan suara riang seperti biasanya yang saya dengar, kali ini mak menangis. Tersedu-sedu. Hati anak mana yang tidak tersayat mendengar ibunya menangis.
Saya: "mak kenapa?"
Mak: "gapapa..huhu (semakin sesegukan) gapapa..cuma mau dengar suaramu aja.."
S: ... "Kalo gapapa gaa mungkin dong mak nangis?"
M: "huu..kasian mak mu ini ditinggal sama semua orang"
Eniwei,
Abah saya meninggal 5 bulan yang lalu. Sejak itu, setiap hari emak menangis. Mak rapuh. Sedikit-sedikit marah, lalu menangis. Sensitif.
Mak jadi kurang semangat menjalani hari-hari tanpa Abah. Jualan mak agak mengalami kemunduran. Satu demi satu pegawai mak resign dengan berbagai alasan. Harga sewa tempat naik, sistem bagi hasil 20-80,
Satu-satunya hal yang membuat mak bertahan untuk tetap jualan, yaitu si adik yang masih kuliah.
Sekali lagi saya mencoba menenangkan mak..
S: "mak, insyaAllah badai pasti berlalu. Allah sayang sama Abah, Abah baik jadi dipanggil duluan sama Allah."
M: "iya tapi mak ga ada teman."
Selama ini, mak ditemani sepupu saya, Komah yang sudah yatim piatu. Akan tetapi, komah minggu depan pulang kampung. Entah balik lagi nemenin dan bantuin saya lagi atau gak.
Asisten rumah tangga pun belum ada yang cocok. Baru 1minggu sudah buhbye.
Suatu hari komah nonton siaran TV lokal, ada UGB live. Pengobatan alternatif ruqyah and debleh and debleh. Komah konsultasi tuh masalah mak yang "ditinggal" pegawai dan ART nya. Dikirim pula foto mak via BBM. Hasil konsultasi: aura mak negatif, perlu diruqyah. Besok jam sekian datang ke bleh bleh bleh untuk konsultasi lanjut.beuhh
Semakin muramlah mak. Jadi kepikiran si aura negatif itu.
Dan minggu depan, di saat komah pulkam, pegawai mak resign, juga belum dapat ART. Mak sendiri. Adik sibuk kuliah dan kerja praktik. Akhir minggu depan pula makmertua mau pindahan ke jakarta, merenovasi rumah suami saya dan tinggal bersama.
Kasihan mak,andaikan saya punya banyak uang saya belikan rumah dekat sini. Biar bersama-sama kami jualan di jakarta. Ah tapi kan saya ga punya uang.
Andaikan saya punya pekerjaan tetap, saya tanggung saja biaya hidup mak dan kuliah adik. Biar mak istirahat saja menikmati hari tuanya. Ah tapi saya kan ga bekerja.
Andaikan saya punya usaha dan sukses, sudahlah saya saja yang menggaji mak dan modalin mak jualan di tempat yang lebih baik. Ah tapi usaha saya masih kecil-kecilan. Untungnya habis terpotong biaya administrasi dan nombokin pulsa.
Ah meleleh ini air mata. Hush! Jauh sana air mata!saya harus kuat, kan mau menguatkan mak.
Tapi saya selalu bisa mendoakan mak, agar mak sehat selalu, banyak rezeki, dan insyaAllah bisa membuka rezeki untuk orang lain. Amiin.
Mak, bad day pasti berlalu. Allah sayang sama kita, mak..
Saya: "mak kenapa?"
Mak: "gapapa..huhu (semakin sesegukan) gapapa..cuma mau dengar suaramu aja.."
S: ... "Kalo gapapa gaa mungkin dong mak nangis?"
M: "huu..kasian mak mu ini ditinggal sama semua orang"
Eniwei,
Abah saya meninggal 5 bulan yang lalu. Sejak itu, setiap hari emak menangis. Mak rapuh. Sedikit-sedikit marah, lalu menangis. Sensitif.
Mak jadi kurang semangat menjalani hari-hari tanpa Abah. Jualan mak agak mengalami kemunduran. Satu demi satu pegawai mak resign dengan berbagai alasan. Harga sewa tempat naik, sistem bagi hasil 20-80,
Satu-satunya hal yang membuat mak bertahan untuk tetap jualan, yaitu si adik yang masih kuliah.
Sekali lagi saya mencoba menenangkan mak..
S: "mak, insyaAllah badai pasti berlalu. Allah sayang sama Abah, Abah baik jadi dipanggil duluan sama Allah."
M: "iya tapi mak ga ada teman."
Selama ini, mak ditemani sepupu saya, Komah yang sudah yatim piatu. Akan tetapi, komah minggu depan pulang kampung. Entah balik lagi nemenin dan bantuin saya lagi atau gak.
Asisten rumah tangga pun belum ada yang cocok. Baru 1minggu sudah buhbye.
Suatu hari komah nonton siaran TV lokal, ada UGB live. Pengobatan alternatif ruqyah and debleh and debleh. Komah konsultasi tuh masalah mak yang "ditinggal" pegawai dan ART nya. Dikirim pula foto mak via BBM. Hasil konsultasi: aura mak negatif, perlu diruqyah. Besok jam sekian datang ke bleh bleh bleh untuk konsultasi lanjut.beuhh
Semakin muramlah mak. Jadi kepikiran si aura negatif itu.
Dan minggu depan, di saat komah pulkam, pegawai mak resign, juga belum dapat ART. Mak sendiri. Adik sibuk kuliah dan kerja praktik. Akhir minggu depan pula makmertua mau pindahan ke jakarta, merenovasi rumah suami saya dan tinggal bersama.
Kasihan mak,andaikan saya punya banyak uang saya belikan rumah dekat sini. Biar bersama-sama kami jualan di jakarta. Ah tapi kan saya ga punya uang.
Andaikan saya punya pekerjaan tetap, saya tanggung saja biaya hidup mak dan kuliah adik. Biar mak istirahat saja menikmati hari tuanya. Ah tapi saya kan ga bekerja.
Andaikan saya punya usaha dan sukses, sudahlah saya saja yang menggaji mak dan modalin mak jualan di tempat yang lebih baik. Ah tapi usaha saya masih kecil-kecilan. Untungnya habis terpotong biaya administrasi dan nombokin pulsa.
Ah meleleh ini air mata. Hush! Jauh sana air mata!saya harus kuat, kan mau menguatkan mak.
Tapi saya selalu bisa mendoakan mak, agar mak sehat selalu, banyak rezeki, dan insyaAllah bisa membuka rezeki untuk orang lain. Amiin.
Mak, bad day pasti berlalu. Allah sayang sama kita, mak..
Langganan:
Postingan (Atom)