Jumat, 14 Februari 2014

bad day pasti berlalu

Pagi ini, mak saya telepon. Bukan suara riang seperti biasanya yang saya dengar, kali ini mak menangis. Tersedu-sedu. Hati anak mana yang tidak tersayat mendengar ibunya menangis.
Saya: "mak kenapa?"
Mak: "gapapa..huhu (semakin sesegukan) gapapa..cuma mau dengar suaramu aja.."
S: ... "Kalo gapapa gaa mungkin dong mak nangis?"
M: "huu..kasian mak mu ini ditinggal sama semua orang"

Eniwei,
Abah saya meninggal 5 bulan yang lalu. Sejak itu, setiap hari emak menangis. Mak rapuh. Sedikit-sedikit marah, lalu menangis. Sensitif.
Mak jadi kurang semangat menjalani hari-hari tanpa Abah. Jualan mak agak mengalami kemunduran. Satu demi satu pegawai mak resign dengan berbagai alasan. Harga sewa tempat naik, sistem bagi hasil 20-80,
Satu-satunya hal yang membuat mak bertahan untuk tetap jualan, yaitu si adik yang masih kuliah.

Sekali lagi saya mencoba menenangkan mak..
S: "mak, insyaAllah badai pasti berlalu. Allah sayang sama Abah, Abah baik jadi dipanggil duluan sama Allah."
M: "iya tapi mak ga ada teman."

Selama ini, mak ditemani sepupu saya, Komah yang sudah yatim piatu. Akan tetapi, komah minggu depan pulang kampung. Entah balik lagi nemenin dan bantuin saya lagi atau gak.

Asisten rumah tangga pun belum ada yang cocok. Baru 1minggu sudah buhbye.

Suatu hari komah nonton siaran TV lokal, ada UGB live. Pengobatan alternatif ruqyah and debleh and debleh. Komah konsultasi tuh masalah mak yang "ditinggal" pegawai dan ART nya. Dikirim pula foto mak via BBM. Hasil konsultasi: aura mak negatif, perlu diruqyah. Besok jam sekian datang ke bleh bleh bleh untuk konsultasi lanjut.beuhh

Semakin muramlah mak. Jadi kepikiran si aura negatif itu.

Dan minggu depan, di saat komah pulkam, pegawai mak resign, juga belum dapat ART. Mak sendiri. Adik sibuk kuliah dan kerja praktik. Akhir minggu depan pula makmertua mau pindahan ke jakarta, merenovasi rumah suami saya dan tinggal bersama.

Kasihan mak,andaikan saya punya banyak uang saya belikan rumah dekat sini. Biar bersama-sama kami jualan di jakarta. Ah tapi kan saya ga punya uang.

Andaikan saya punya pekerjaan tetap, saya tanggung saja biaya hidup mak dan kuliah adik. Biar mak istirahat saja menikmati hari tuanya. Ah tapi saya kan ga bekerja.

Andaikan saya punya usaha dan sukses, sudahlah saya saja yang menggaji mak dan modalin mak jualan di tempat yang lebih baik. Ah tapi usaha saya masih kecil-kecilan. Untungnya habis terpotong biaya administrasi dan nombokin pulsa.

Ah meleleh ini air mata. Hush! Jauh sana air mata!saya harus kuat, kan mau menguatkan mak.

Tapi saya selalu bisa mendoakan mak, agar mak sehat selalu, banyak rezeki, dan insyaAllah bisa membuka rezeki untuk orang lain. Amiin.
Mak, bad day pasti berlalu. Allah sayang sama kita, mak..

Tidak ada komentar: