Sayangku, ingatkah saat akhirnya
kau mendekatiku, ribuan karakter sms kau kirimkan ke kotak masukku
dan semoga kau tidak ingat,
sengaja tak kubalas satu persatu, karena ingin kau memperjuangkan hatiku
bersaing dengan pejuang-pejuang lainnya
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
aku bersedia menemuimu
dan semoga kau tidak ingat,
aku sengaja membuatmu menunggu, karena ingin kau benar-benar datang untukku
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
aku membuka hati untukmu masuk
dan semoga kau tidak ingat,
aku mulai cemburu pada temanmu, keluargamu,
pekerjaanmu, bahkan hewan peliharaanmu.
aku begitu marah ketika kau tak membalas smsku,
tidak juga mengangkat teleponku.
aku kecewa ketika kau datang terlambat
atau membatalkan kencan kita karena bekerja
aku murka, sayangku!
aku membalasmu dengan hal yang sama
tapi sebab yang berbeda.
kamu melakukannya sebab mempersiapkan masa depan kita,
sedang aku..sebab hanya ingin membalasmu..
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
kau memutuskan melamarku
dan semoga kau tidak ingat
saat ayahku bermuka masam penuh keraguan terhadapmu
ketika ibu dan saudarimu bilang bahwa aku bukan orang
yang pantas menyandingimu
di saat dunia tak berpihak pada kita
tapi sayangku, kau tunjukkan pada mereka
kalau kita memang layak untuk dipersatukan
sedang aku? hanya berani melihat dari balik punggungmu
menunggu keadaan menjadi benar-benar membaik
Sayangku, ingatkan saat akhirnya
kau meminangku dengan hamdallah
dan semoga kau tidak ingat
seminggu sebelumnya, aku merajuk padamu
aku merasa sendiri mempersiapkan semuanya, karena kamu terlalu sibuk
padahal kamu sibuk bekerja lebih keras
untuk mewujudkan pesta syukuran hari itu, dan kehidupan kita setelahnya.
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
begitu senang kita menjalani biduk rumah tangga
dan semoga kau tidak ingat
ketika aku protes karena kau lembur hampir setiap malam,
dan sebegitu histerisnya aku karena kau mengantar anak buahmu yang muda dan cantik itu
aku pikir kau tak lagi mencintaiku
tapi kau, dengan sisa tenaga yang terkuras setelah bekerja
dengan lembut mengatakan mencintaiku, dan ia yang berlindung di dalam perutku
sayangku, saat itu kau mengumpulkan pundi demi pundi untuk menjamin kami nanti
dan wanita muda yang lembur itu, mengingatkanmu padaku sebelum menikah dulu
kebaikan hatimu, tidak membiarkan ia pulang sendiri malam itu
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
kaki-kaki mungil itu meramaikan rumah kita
aku teramat sibuk dan berbahagia mengurusi mereka
dan semoga kau tidak ingat
saat aku mengantarmu pergi dan menyambutmu dari kantor
dengan daster lusuh, rambut kusut, dan wajah yang kutekuk
dengan mulut yang penuh omelan tentang pekerjaan rumah yang tak habisnya
kau hanya tersenyum, dan berterima kasih padaku.
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
suatu akhir pekan yang indah, kita berwisata bersama
dan semoga kau tidak ingat,
lima hari berturut-turut sebelumnya
aku mengeluh dan mengeluh
harga kebutuhan pokok, cicilan rumah,
biaya sekolah anak,keinginanku berlibur, baju baru
di hari itu, kau mewujudkannya dengan hasil keringatmu
padahal sebenarnya kau ingin beristirahat saja di rumah
atau bercengkrama bersama sahabat lamamu di lapangan futsal
Sayangku, ingatkah saat akhirnya
anak-anak kita beranjak dewasa
kau memberi mereka modal usaha dan kendaraan
dan semoga kau tidak ingat
kau terpaksa harus mengubur sementara keinginanmu
memutar uang itu dalam bisnis untuk masa tua kita
Sayangku, pada akhirnya setelah lewat tahun emas kita bersama
aku berandai bisa memutar waktu kembali
aku ingin selalu membalas tiap karakter perhatianmu
aku ingin selalu membalas kata cintamu
aku ingin selalu memakai pakaian dan dandanan pantas setiap kau di rumah
aku ingin selalu menyambutmu dengan senyum, makanan, serta minuman kesukaanmu
aku ingin menyampaikan keinginan dan unek-unekku dengan cara yang penuh kasih
dan aku ingin tidak banyak mengeluhkan tentang kehidupan
Sayangku, pada akhirnya kini
setelah tujuh langkahku pergi dari sisimu
malaikat dari langit akan menanyai tentang dirimu
Tuhanmu, utusan Tuhanmu, dan agamu
Sayangku, aku yakin kau bisa menjawabnya dengan baik
dan mendapat tempat yang baik disisi-Nya
Sayangku, kalaupun kita tidak akan bertemu lagi, aku rela
aku rela karena akan ada bidadari muda yang mendampingimu
menggantikanku yang kini sudah senja
dan tak lama lagi akan menyusulmu kesana
Izinkan aku mengucapkan hal yang dulu jarang ku ucapkan,
Terima kasih, sayangku
dan aku sangat mencintaimu
Bandung, 28 Desember 2010