belajar itu kadang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi seseorang yang melakukannya. harus diakui, pada awalnya belajar itu pasti dimulai dengan hal yang belum dikuasai. yaaa..kalo udah dikuasai dengan baik, buat apa belajar? *ngeles*
![]() |
| ada yang pertama kali pegang sepeda langsung bisa? |
belajar juga tidak terhenti ketika proses pendidikan formal berakhir. belajar itu berlangsung sepanjang hayat. tinggal, bagaimana seseorang menyikapi belajar itu, dalam hal ini adalah saya, untuk terus mau belajar.
ya! belajar untuk terus belajar.
fyi, saya ini pemalas. saya ini merasa diri saya pintar kali ya, makanya susah sekali membangkitkan hasrat untuk mempelajari sesuatu. saya ini sotoy, sok segala tahu, atau berlagak seperti saya ini tahu, padahal kagak. *mengurut dada*
mulai tanggal 6 mei 2011, saya mulai bekerja di kantor yang baru. posisi baru, bidang pekerjaan baru, teman-teman baru, dan boss baru tentunya. otomatis saya harus dapat beradaptasi sekaligus mempelajari hal-hal baru di kantor ini: culture-nya, product-nya, teman-temannya, bosnya, dan lain sebagainya. terutama belajar apa yang akan saya kerjakan sekarang dan nantinya di posisi ini.
yak, belajar ilmu baru yang benar-benar tidak relevan dengan bidang ilmu yang dulu saya pelajari selama 4,5 tahun di perguruan tinggi ini hampir membuat saya frustasi. setiap hari rasanya tangan saya tidak berhenti mengetikkan nada-nada berbau keluhan di plurk, bbm, sms. mulut saya pun tidak tinggal diam, setiap malam saya berkeluh kesah dan bercurhat-ria dengan si cami.
dalam hal adaptasi, saya rasa saya cukup dapat mengikuti culture yang ada dengan baik, kecuali di bidang pengetahuan dan skill tentunya. ini yang membuat seorang gilang kinasihan yang ceria dan periang serta merta menjadi gilang yang jaim dan pendiam. bukan, saya bukan sedang membangun pencitraan yang baik (karena saya bukan calon wakil rakyat) tapi karena... saya minder, brur! ilmu saya tidak setinggi teman-teman saya dalam bidang ini.
ketika teman-teman sedang sibuk-sibuknya ini dan itu, regroup, meeting, saya masih saja menatap data-data dan dokumen yang saya kerjakan, kadang tanpa ada clue apakah yang harusnya saya lakukan. otak saya blank. istilah-istilah yang saya baca dan harus saya kerjakan sampai selesai itu nyaris menjadi sangat asing buat saya. saya merasa menjadi anak TK yang harus bisa mengerjakan pekerjaan anak SD. biasanya kalo sudah begini, saya menanyakan hal yang tidak saya mengerti sama senior saya, tapi ketika saya bertanya, dan beliau menjawab yang ada saya semakin bertambah pusing #ketawa miris.
yak, menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan baru memang bukan perkara gampang untuk beberapa orang, termasuk saya. saya cukup berlega hati karena bukan saya saja yang mengalami fase seperti itu, tapi juga dialami penulis terkenal seperti swistien dan temannya nidya.
fase ini akan segera berakhir, saya segera akan bisa mengikuti pelajaran untuk terus belajar hal dan bidang yang akan saya geluti dengan baik #katahatisaya
alhamdulillah, sampai detik terakhir saya mengetikkan kata terakhir ini, at least saya sedikit tahu mengenai ini, itu, yang ini, dan yang itu. semoga Allah meridhoi niat saya untuk terus belajar dan bekerja atas niat ibadah. dengan demikian, ilmu yang saya pelajari akan mudah terserap dan bermanfaat untuk saya dan juga orang lain. amiin, amiin, amiin, Allahumma amiin.
semangat!

1 komentar:
iyah buc.., emang harus semangat terus. kalo kita berhenti belajar, kita bisa makin jauh ketinggalan..
*nyadar diri sama otak paspasan*
lagian belajar itu kan ibadah.. apalagi kalo abis belajar kita bisa ngeshare ilmunya.. jadinya pahala tak terkira.
Posting Komentar