Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Malang benar nasib bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Harga bahan-bahan pokok naik, situasi sosial politik yang carut marut, korupsi masih merajalela, serta serangan yang tak terelakkan dari alam. Tak ayal, yang menanggung beban paling berat adalah rakyat kecil dan Presiden sebagai pihak yang menjadi kambing hitamnya.
Berikut merupakan jeritan hati rakyat kecil (berdasarkan rekaan penulis):
Rakyat Kecil 1 (RK1): ”Harga barang di pasar sekarang udah kayak di Supermarket aja yak, udah mahal kagak bisa ditawar.”
RK2: ”Mana bantuan luar negeri yang katanya buat benerin rumah kita yang ketiban longsor?”
RK3: ”Mak, kita makan apa hari ini? Saya bosen makan daun ama minum aer sungai.”
RK4: ”Nak, kita makan angin ama minum aer ujan aja dulu. Asal kau jangan sakit, sakit itu mahal, Nak. Oiya, kalo Bu Guru nanya uang sekolaan, bilang Emak belom datang dari kampung.”
RK5: ”Ya Tuhan, mengapa setiap taun Kau berikan banjir pada kami?” (sambil buang bungkus nasi dan sampah lainnya ke selokan serta kali terdekat)
RK6: ”Hidup di kota besar memang kejam! Kita harus kerja banting tulang untuk mendapatkan penghidupan!” (nada menggurui namun santai, sambil main catur dan melinting rokok di pinggir jalan)
RK7: ”Kapan yah Presiden datang dan kasih kita makan?”
Semua urusan selalu dikembalikan kepada Presiden, seolah hanya Presiden sendiri yang menjaga stabilitas seluruh kegiatan yang ada di Indonesia. Presiden bukanlah manusia super yang dapat menangani semua urusan itu. Ingat: tangan beliau hanya dua, mata hanya dua, telinga dua, serta jumlah anggota tubuh lainnya yang benar-benar menunjukkan bahwa beliau tak lebih dari manusia biasa. Betapa beratnya jadi beliau. Bisa jadi Pemilu depan tidak ada yang berani mencalonkan diri jadi Presiden
Apabila semua urusan di negeri ini diserahkan kepada Presiden, hal tersebut menunjukkan bahwa Pemilu diadakan untuk memilih Tuhan, bukan pemimpin bangsa. Naudzubillah...
Apa salahnya jika kita memulai hal-hal yang baik dan bertanggung jawab dari diri sendiri, dari komunitas sendiri, di lingkungan sendiri. Misalnya membiasakan hidup berhemat dan menabung, membersihkan dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan, dan membudayakan kerja keras dan pantang menyerah. Satu orang, dua orang, empat orang, dan seterusnya, hingga lima ratus ribu penduduk Indonesia memiliki kebiasaan tersebut. Tidak mudah, tapi bisa diusahakan. Semakin cepat diterapkan pada diri sendiri, semakin cepat pula terbentuk sistem masyarakat yang benar-benar mandiri, sehat, makmur, dan tidak mengeluhkan rentetan cobaan hidupnya.
Cobaan bangsa ini untuk dihadapi dan dicari solusi bersama, bukan untuk disesali dan dipertanyakan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar