
Percaya gak kalo kemaren waktu aku sakit, hampir tiap malem hari ada yang 'nemenin', tapi bukan manusia... Bukan aku sok bisa ghoib, tapi biasanya aku bukanlah orang yang peka terhadap hal yang kayak gitu. Salah satunya cerita ini nih, dan catet ya, aku gak ngarang cerita ini. Ini real story of me, hari Jumat tanggal 6 Juni 2008 ekitar pukul 17.00 WIB.
Bahkan waktu panas tubuh aku 39,5C-40C aku didampingi makhluk yang gak bisa aku liat rupanya. Tapi aku ngerasa banget kalo dia ada di belakangku, ngusep-ngusep pelan kepala ampe punggung aku. Pelan banget, lembut, ambil ngebimbing aku bilang "Laa illaha ilallah" berulang-ulang.
Nah, sambil ngelafadzkan asma pengakuan tiada Tuhan selain Allah itu, aku dibawa terbang... Iya terbang ke atas, masa ke bawah. Terbangnya kerasa 'aku' ringan banget. Setiap aku dan 'makhluk cahaya' itu bersama-sama melafadzkan 'Laa illaha ilallah' (dan dia masih ngusep-ngusep kepala aku) makin tinggi p
ula aku terbang. Aku gak tau aku diajak kemana oleh 'makhluk cahaya' itu, tapi kalo aku liat ke bawah, aku semakin jauh ninggalin tubuhku.
Semakin aku terbang dengan lafadz 'Laa illaha ilallah' ternyata aku menuju satu tempat yang nampaknya masih jauh diatas, satu tempat yang gak bisa diliat begitu aja. Satu tempat yang terang benderang, sampai saat itu mataku perih waktu berusaha mengintip tempat terang yang maih jauh itu. Masih jauh, tapi udah bikin mata silau luar biasa.
Pelan-pelan terdengar adzan... "Allahu Akbar, Allahu Akbar" dan aku pun berhenti melafadzkan 'La illaha ilallah' untuk menjawab adzan tersebut. Tiba-tiba aku jatuh, dan aku di tempat tidurpun bangun sambil tersentak. Aku pun membuka mata dengan jantung berdebar-debar. Mataku masih perih banget, dan mengeluarkan air mata banyak. Aku istighfar berulang-ulang, sambil tetap menjawab adzan. Ternyata sudah masuk waktu maghrib.
Makhluk cahaya itu sudah tak ada di belakangku. Gak ada yang mengusap kepalaku. Kali ini aku mengeluarkan air mata kembali, menangis dan memanggil mama. Aku ceritakan pengalaman ku terbang ke arah cahaya terang kepada mama. Dan mama hanya terdiam sambil istighfar. Aku bilang pada mama, aku belum siap untuk pergi ninggalin ragaku dengan penuh dosa. Aku bilang belum mandi besar karena sakit, belum suci untuk sholat. Mama pun segera wudhu, sholat, berdoa, kemudian melantunkan asmaul husna di telingaku.
Mama mengambil termometer, mengukur suhu tubuhku, 39,8C. Aku pun disuapi makan, minum obat, dan ditungguinya sampai papap datang dari Jakarta.
Entah apa yang terjadi kalo gak ada adzan itu, entah aku udah dimana kalo aku gak menjawab adzan maghrib itu. Semua ada waktunya, kan. Mungkin malam itu bukan waktuku untuk melakukan perjalanan terbang sesungguhnya dengan sang makhuk cahaya.
Dan siapakah makhluk cahaya itu? Allahu alam Laa haula wala quwwata illa billah
Bahkan waktu panas tubuh aku 39,5C-40C aku didampingi makhluk yang gak bisa aku liat rupanya. Tapi aku ngerasa banget kalo dia ada di belakangku, ngusep-ngusep pelan kepala ampe punggung aku. Pelan banget, lembut, ambil ngebimbing aku bilang "Laa illaha ilallah" berulang-ulang.
Nah, sambil ngelafadzkan asma pengakuan tiada Tuhan selain Allah itu, aku dibawa terbang... Iya terbang ke atas, masa ke bawah. Terbangnya kerasa 'aku' ringan banget. Setiap aku dan 'makhluk cahaya' itu bersama-sama melafadzkan 'Laa illaha ilallah' (dan dia masih ngusep-ngusep kepala aku) makin tinggi p
ula aku terbang. Aku gak tau aku diajak kemana oleh 'makhluk cahaya' itu, tapi kalo aku liat ke bawah, aku semakin jauh ninggalin tubuhku.Semakin aku terbang dengan lafadz 'Laa illaha ilallah' ternyata aku menuju satu tempat yang nampaknya masih jauh diatas, satu tempat yang gak bisa diliat begitu aja. Satu tempat yang terang benderang, sampai saat itu mataku perih waktu berusaha mengintip tempat terang yang maih jauh itu. Masih jauh, tapi udah bikin mata silau luar biasa.
Pelan-pelan terdengar adzan... "Allahu Akbar, Allahu Akbar" dan aku pun berhenti melafadzkan 'La illaha ilallah' untuk menjawab adzan tersebut. Tiba-tiba aku jatuh, dan aku di tempat tidurpun bangun sambil tersentak. Aku pun membuka mata dengan jantung berdebar-debar. Mataku masih perih banget, dan mengeluarkan air mata banyak. Aku istighfar berulang-ulang, sambil tetap menjawab adzan. Ternyata sudah masuk waktu maghrib.
Makhluk cahaya itu sudah tak ada di belakangku. Gak ada yang mengusap kepalaku. Kali ini aku mengeluarkan air mata kembali, menangis dan memanggil mama. Aku ceritakan pengalaman ku terbang ke arah cahaya terang kepada mama. Dan mama hanya terdiam sambil istighfar. Aku bilang pada mama, aku belum siap untuk pergi ninggalin ragaku dengan penuh dosa. Aku bilang belum mandi besar karena sakit, belum suci untuk sholat. Mama pun segera wudhu, sholat, berdoa, kemudian melantunkan asmaul husna di telingaku.
Mama mengambil termometer, mengukur suhu tubuhku, 39,8C. Aku pun disuapi makan, minum obat, dan ditungguinya sampai papap datang dari Jakarta.
Entah apa yang terjadi kalo gak ada adzan itu, entah aku udah dimana kalo aku gak menjawab adzan maghrib itu. Semua ada waktunya, kan. Mungkin malam itu bukan waktuku untuk melakukan perjalanan terbang sesungguhnya dengan sang makhuk cahaya.
Dan siapakah makhluk cahaya itu? Allahu alam Laa haula wala quwwata illa billah